Inilah Rukun Nikah Yang Harus di Pahami Muslim

Minggu, Oktober 16th 2016. | Berita Islam

Hampir menjadi harapan atau keinginan semua orang untuk melakukan pernikahan dengan pasangan mereka, pasalnya nikah merupakan salah satu anjuran nabi, untuk membina sebuah keluarga yang sakinah mawadah dan warrahmah. Agama islam merupakan agama yang menghargai sebuah hubungan, untuk membina sebuah keluarga dan agar bisa hidup bersama anda wajib melakukan pernikahan terlebih dahulu untuk menghalalkan pasangan anda. pernikahan dalam islam tentu ada rukun nikah dan syarat sah nikah, semua rukun pernikahan dan syarat syah nikah mutlak harus dipenuhi, jika tidak maka tidak sah ernikahan tersebut.

Ada beberapa rukun pernikahan yang harus ada dalam prosesi pernikahan atua pada saat akan ijab qobul yaitu pengantin lelaki 9calon suami) pengantin istri (calon istri), wali nikah, dua orang saksi nikah, ijab dan Kabul atau kita kenal dengan akad nikah. Kelima hal tersebut harus ada dan harus dipenuhi, karena itu merupakan rukunnya nikah, jadi rukun pernikahan merupakan hal-hal yang harus ada dalam pernikahan. Tidak hanya cukup pada rukun pernikahan saja, tetapi ada beberapa syarat sah nikah bagi masing-masing pihak yaitu mempelai pria dan wanita.

Setelah anda mempersiapkan rukun nikah untuk dipenuhi, ada beberapa syarat sah nikah juga yang harus dipenuhi oleh masing-masing pihak. Pertama m, syarat sah nikah bagi mempelai pria diantaranya calon mempelai suami haruslah beragama muslim, dan lelaki tertentu. Mempelai lelaki bukanlah lelaki yang mahram dengan calon istri ( hubungan saudara adik, kakak), tidak dalam kegiatan ibadah haji dan atau ihram, mengetahui wali nikah, tidak boleh memiliki empat istri yang sah menurut agama dalam suatu waktu, mengetahui dan memahami bahwa peramuan yang hendak dinikahi sah menjadi istri.

Baca Juga: Niat Mandi Wajib Dan Tata Caranya

Selanjutnya syarat sah nikah bagi mempelai wanita. Calon bakal istri harus beragama islam, tidak dalam ikatan pernikahan dengan lelaki manapun, perempuan yang tertentu yaitu perempuan mahram bakal suami ( hubungan saudara atau ada hubungan darah), tidak dalam masa idah, atau masa beberapa bulan setelah mempelai wanita di cerai oleh suami terdahulunya. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa tidak ada bayi yang sedang dikandung oleh perempuan tersebut. Selanjutnya calon mempelai wanita juga bukan  khunsa.

Rukun nikah

  • Pengantin lelaki (Suami)
  • Pengantin perempuan (Isteri)
  • Wali
  • Dua orang saksi lelaki
  • Ijab dan kabul (akad nikah)

Syarat Sah Nikah Syarat Bakal Suami

Syarat-syarat perkawinan merupakan dasar bagi sahnya perkawinan. Apabila syarat-syaratnya terpenuhi, maka perkawinan itu sah dan menimbulkan adanya segala hak dan kewajiban sebagai suami istri.

Sedangkan yang dimaksud dengan syarat perkawinan ialah syarat yang bertalian dengan rukun-rukun perkawinan, yaitu syarat-syarat bagi calon mempelai, wali, saksi, dan ijab qabul. Dalam menjelaskan masalah syarat nikah ini, terdapat juga perbedaan dalam penyusunan syarat akan tetapi tetap pada inti yang sama. Syari’at islam menentukan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh calon kedua mempelai yang sesuai dan berdasarkan ijtihad para ulama.

  • Islam
  • Lelaki yang tertentu
  • Bukan lelaki mahram dengan bakal isteri
  • Mengetahui wali yang sebenar bagi akad nikah tersebut
  • Bukan dalam ihram haji atau umrah
  • Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan
  • Tidak mempunyai empat orang isteri yang sah dalam satu masa
  • Mengetahui bahawa perempuan yang hendak dikahwini adalah sah dijadikan isteri

Syarat bakal isteri

  • Islam
  • Perempuan yang tertentu
  • Bukan perempuan mahram dengan bakal suami
  • Bukan seorang khunsa
  • Bukan dalam ihram haji atau umrah
  • Tidak dalam idah
  • Bukan isteri orang

Syarat wali

Dan hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW:

Yang artinya : “ tidak sah perkawinan tanpa wali” (rowahu homsah)
Dan : “ perempuan mana saja yang kawin tanpa seizin walinya maka perkawinannya itu batal (3x). Apabila suami telah melakukan hubungan seksual maka si perempuan sudah berhak mendapatkan mas kawin lantaran apa yang telah ia buat halal pada kemaluan perempuan itu. Apabila wali-wali itu enggan maka sultanlah (pemerintah) yang menjadi wali bagi orang yang tidak ada walinya” ( rowahul khomsah illa an-Nasa’i)

  • Islam, bukan kafir dan murtad
  • Lelaki dan bukannya perempuan
  • Baligh
  • Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan
  • Bukan dalam ihram haji atau umrah
  • Tidak fasik
  • Tidak cacat akal fikiran,gila, terlalu tua dan sebagainya
  • Merdeka
  • Tidak ditahan kuasanya daripada membelanjakan hartanya

Sebaiknya bakal isteri perlulah memastikan syarat WAJIB menjadi wali. Sekiranya syarat wali bercanggah seperti di atas maka tidak sahlah sebuah pernikahan itu. Sebagai seorang mukmin yang sejati, kita hendaklah menitik beratkan hal-hal yang wajib seperti ini. Jika tidak di ambil kira, kita akan hidup di lembah zina selamanya.

Syarat-syarat saksi

  • Sekurang-kurangya dua orang
  • Islam
  • Berakal
  • Baligh
  • Lelaki
  • Memahami kandungan lafaz ijab dan qabul
  • Dapat mendengar, melihat dan bercakap
  • Adil (Tidak melakukan dosa-dosa besar dan tidak berterusan melakukan dosa-dosa kecil)
  • Merdeka

Syarat-Syarat Ijab Qabul

Perkawinan wajib dilakukan dengan ijab dan qabul dengan lisan. Inilah yang dinamakan akad nikah (ikatan atau perjanjian perkawinan). Bagi orang bisu sah perkawinan nya dengan isyarat tangan atau kepala yang bisa dipahami.

Ijab dilakukan oleh pihak wali mempelai perempuan atau walinya, sedangkan kabul dilakukan oleh mempelai laki-laki atau wakilnya.Mrnurut pendirian hanafi, boleh juga ijab oleh pihak mempelai laki-laki atau wakilnya  dan kabul oleh pihak perempuan (wali atau wakilnya) apabila perempuan itu telah baligh dan berakal, dan boleh sebaliknya.Ijab dan kabul dilakukan di dalam satu majlis, dan tidak boleh ada jarak yang lama antara ijab dan qabul yang merusak kesatuan akad dan kelangsungan akad, dan masing-masing ijab dan qabul dapat di dengar dengan baik oleh kedua belah pihak dan dua orang saksi.Imam Hanafi membolehkan ada jarak antara ijab dan qabul asal masih di dalam satu majelis dan tidak ada hal-hal yang menunjukkan salah satu pihak berplaing dari maksud akad itu.

Adapun lafadz yang digunakan untuk akad nikah adalah lafaz nikah atau tazwij, yang terjemahannya adalah kawin dan nikah.

Sebab kalimat-kalimat itu terdapat di dalam Kitabullah dan Sunnah. Demikian menurut asy-Syafi’i dan Hambali. Sedangkan hanafi membolehkan dengan kalimat lain yang tidak dari Al-Qur’an, misalnya menggunakan kalimat hibah, sedekah , pemilikan dan seagainya, dengan alasan, kata-kata ini adalah majas yang biasa juga digunakan dalam bahasa sastra atau biasa yang artinya perkawinan.

Contoh Bacaan akad nikah

اَنْكَحْتُكَ…..بِنْتِ…..بِمَهَرِاَلْفِرُوْبِيَّةٍحَالًا

Aku kawinkan engkau dengan…….binti……..dengan mas kawin Rp.1.000 tunai
Jawab atau kalimat kabul yang digunakan wajiblah sesuai dengan ijab.
Akad nikah itu wajib di hadiri oleh : dua orang saksi yang memenuhi syarat sebagai saksi, karena saksi merupakan syarat sah perkawinan.Adapun dasar dari perkawinan itu wajib  dengan akad nikah dan dengan lafadz atau kalimat tertentu adalah berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW:

Yang artinya: Takutlah engkau sekalian kepada Allah dalam hal orang-orang perempuan, sesungguhnya engkau membuat halal kemaluan-kemaluan mereka dengan kalimat Allah. (HR. Muslim)
Bacaan Akad Nikah Ijab:Wali/wakil

“Contoh bacaan Ijab:Wali/wakil Wali berkata kepada bakal suami:”Aku nikahkan/kahwinkan engkau dengan Wulan Binti Mnula dengan mas kahwinnya/bayaran perkahwinannya sebanyak RM 3000 tunai”.

Syarat ijab

  • Pernikahan nikah ini hendaklah tepat
  • Tidak boleh menggunakan perkataan sindiran
  • Diucapkan oleh wali atau wakilnya
  • Tidak diikatkan dengan tempoh waktu seperti mutaah(nikah kontrak e.g.perkahwinan(ikatan suami isteri) yang sah dalam tempoh tertentu seperti yang dijanjikan dalam persetujuan nikah muataah)
  • Tidak secara taklik(tiada sebutan prasyarat sewaktu ijab dilafazkan)

Syarat qabul

  • Ucapan mestilah sesuai dengan ucapan ijab
  • Tiada perkataan sindiran
  • Dilafazkan oleh bakal suami atau wakilnya (atas sebab-sebab tertentu)
  • Tidak diikatkan dengan tempoh waktu seperti mutaah(seperti nikah kontrak)
  • Tidak secara taklik(tiada sebutan prasyarat sewaktu qabul dilafazkan)
  • Menyebut nama bakal isteri
  • Tidak diselangi dengan perkataan lain

Bacaan Akad Nikah

“Daku terima nikahnya ….. binti …. (sebutkan nama pengantin perempuan) dengan mas kahwin sebanyak RM ……  tunai.”
ATAU
“Daku terima nikahnya ….. binti …. (sebutkan nama pengantin perempuan) sebagai isteriku.”

Itulah beberapa rukun nikah dan syarat sah nikah untuk mempelai wanita dan mempelai pria, semua syarat dan rukun tersetbu harus dipenuhi agar pernikahan anda sah menurut agama dan diakui oleh Negara. Nah setelah membahas syarat sah mempelai pria dan wanita, selanjutnya anda harus memahami juga sarat sah wali, karena wali  juga masuk dalam rukun pernikahan. Berikut syarat sah wali seperti beragama islam, tidak murtad atau kafir, harus laki-laki dan bukan perempuan, sudah baligh atau dewasa,  menjadi wali atas kerelaan sendiri bukan karena dipaksa, merdeka (bukan budak), tidak sedang dalam perjalanan ihram atau haji, tidak cacat fikiran atau mental, tidak fasik, serta tidak ditahan kuasa wali untuk membelanjakan hartanya.

Baca Juga: Lafadz Niat Mandi Nifas dalam Islam

Selanjutnya ialah sarat sah saksi nikah. Hal tersebut sangat penting karena saksi jgua masuk dalam rukun pernikahan. Inilah syarat sah saksi nikah. Harus laki-laki, harus berakal atau tidak cacat mental, harus sudah balig atau dewasa, saksi nikah sekurang-kurangnya berjumlah dua orang, harus merdeka ( tidak dalam perbudakan), saksi juga harus bisa berucap, mendengar dan melihat, saksi nikah juga harus memahami lafadz ijab qobul. Semua hal tersebut harus dipahami oleh masing-masing pihak ayng masuk dalam rukun nikah.