Makna dan Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW

Selasa, Januari 6th 2015. | Berita Islam

Makna dan Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAWIdzsn.com | Maulid Nabi Muhammad SAW adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada tiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid ataupun milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi adalah tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh sesudah Nabi Muhammad SAW wafat. Dengan cara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan juga penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Kaum ulama yang berpaham Salafiyah dan juga Wahhabi, umumnya tidak merayakannya sebab menganggap perayaan Maulid Nabi adalah satu buah Bid’ah, yaitu kegiatan yang bukanlah adalah ajaran Nabi Muhammad SAW. Mereka berpendapat bahwa memang kaum muslim yang merayakannya keliru dalam menafsirkannya sehingga keluar dari esensi kegiatannya.

Bagi umat Islam umumnya Maulid Nabi Muhammad SAW telah selayaknya diperingati dan juga perihal ini telah amat umum khususnya di Indonesia. Cuma saja antara sekelompok umat Islam yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan didalam penyelengaraannya sekaligus perihal ini dapat jua memiliki arti yang berlainan.

Ada yang berpendapat bahwa memang maulid Nabi adalah bid’ah mazmumah, menyesatkan. Pendapat kesatu membangun argumentasinya melalui pendekatan normatif tekstual. Perayaan maulid Nabi SAW tersebut tidak didapatkan baik dengan cara tersurat maupun dengan cara tersirat dalam Al-Quran dan juga Al-Hadis. Syekh Tajudiin Al-Iskandari, ulama besar berhaluan Malikiyah yang mewakili pendapat kesatu, menyatakan maulid Nabi ialah bid’ah mazmumah, menyesatkan. Penolakan ini ditulisnya dalam Kitab Murid Al-Kalam Ala’amal Al-Maulid.

Ada jua yang berpendapat sebaliknya bahwa memang maulid Nabi adalah bid’ah mahmudah, inovasi yang baik, dan juga tidak bertentangan dengan syariat. Pendapat ke-2 diwakili oleh Ibnu Hajar Al-Atsqolani dan juga As-Suyuti. Keduanya menyatakan bahwa memang status hukum maulid Nabi adalah bid’ah mahmudah. Yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, tetapi keberadaannya tidak bertentang dengan ajaran Islam. Bagi As-Suyuti, keabsahan maulid Nabi Muhammad SAW dapat dianalogikan dengan diamnya Rasulullah ketika memperoleh orang-orang Yahudi berpuasa kepada hari Asyura selaku ungkapan syukur kepada Allah atas keselamatan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. maulid Nabi, menurut As-Suyuti, adalah ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad SAW menuju wajah bumi. Penuturan ini dapat dilihat dalam Kitab Al-Ni’mah Al-Kubra Ala Al-Alam fi Maulid Sayyid Wuld Adam.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof Dr H Syafiq A Mughni MA menyatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW mengajarkan pentingnya mencontoh ataupun meneladani akhlak (perilaku)-nya. “Yang urgen dari Maulid Nabi Muhammad SAW ialah mengambil pelajaran dari risalah beliau. Artinya, bagaimana kita meniru akhlak beliau dalam bertauhid, berumahtangga, dan juga bermasyarakat” ujarnya.

“Untuk meneladani Nabi Muhammad SAW dalam berumah tangga adalah mencontoh akhlak nabi dalam mengasihi, memuji, dan juga tidak pernah meyakiti isterinya” ungkap mantan rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) tersebut. Sementara tersebut, meneladani Nabi Muhammad SAW dalam bermasyarakat dan juga bernegara ialah mencontoh akhlak nabi dalam melaksanakan pencerahan masyarakat dari jalan kegelapan dan juga kebatilan menuju jalan yang terang benderang.

“Pencerahan tersebut dilakukan dengan perilaku santun, seperti suka menolong, suka melayani, tidak mau membicarakan kejelekan, menghormati musuh, suka memaafkan, sabar, suka beramal, tidak menyakiti manusia, tidak emosi, dan juga banyak lagi” paparnya.

Menurut dia, akhlak ataupun perilaku yang berusaha melayani, mengasihi, dan juga menghormati manusia yg lain begitulah yang membikin risalah Nabi Muhammad SAW berjalan sukses dan juga memiliki pengaruh yang abadi.

“Cara-cara yang diajarkan Nabi Muhammad SAW tersebut memang tidak gampang dicontoh, sebab tersebut meneladani Nabi Muhammad SAW tidak lumayan cuma ketika merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, namun dalam kehidupan sehari-hari” tegasnya.